Senin, 23 Februari 2015

Teks Lamaran

Assalamu ‘alaykum wr.wb.
Alhamdulillahirabbil ‘alamin. Allahuma shalli ‘ala Muhammad, wa ‘ala alihi washahbihi ajma’in.

Puji syukur, kita konjukaken wonten ngarsanipun Allah Swt, ingkang sampun paring rahmat lan kanikmatan dhumateng umatipun, saengga dugi titi wanci menika, kita sedaya tansah manggih ing karaharjan, widada astuti, nir ing sambekala.

Shalawat sarta salam, mugi tansah tinetepna kagem junjungan kita Rasulullah Muhammad Saw, sumrambahipun dhumateng kulawarga Nabi, para sohabat, lan jamaah muslimin lan muslimat sedaya.

Wonten ngarsanipun para pinisepuh lan sesepuh kulawarga Bapak --- ingkang satuhu kinabekten, lan para tamu undangan ingkang dhahat kinurmatan, keparenga kula kumowantun matur wonten ngarsa panjenengan sedaya, minangka sulih aturipun Bapak --- sakulawarga, ingkang pidalem wonten ing Desa ---, Kec ---, Kab ---.

Ingkang sepisan, Bapak --- sakulawarga ngaturaken salam taklim kanthi atur “Assalamu ‘alaykum wr.wb”, katur keluarga besar Bapak ---, sinartan atur panuwun ingkang tanpa upami, dene sowan kula sakrombongan sampun katampi kanthi sae lan kanthi renaning penggalih.

Kaping kalihipun, netepi jejegipun tiang sepuh, Bapak --- kaliyan Ibu --- ingkang peputra Dhimas ---, dipun sambati dening putranipun, dene anggenipun srawung kekancan kalian Nimas --- putra putrinipun Bp --, tambah raket, nuwuhaken raos tresna ingkang tan kena pinisah. Golonging tekad, Dhimas --- nedyo ngajak bebrayan wontening ikatan perkawinan ingkang suci. Kanthi menika, Bp --- sakulawarga sowan wonten ngarsanipun kulawarga Bp ---, kanthi sedya nglamar putrinipun, ingkang sesilih Nimas ---.

Njangkepi sowan kula sakrombongan, kula aturaken ugi uba rampe rerangkening pirembagan, ingkang arupi kalpika/cincin lan oleh-oleh sakcekapipun. Mugi saget katampi, lan ndadosaken rumaketing silaturahmi antawisipun kulawarga Bp --- lan kulawarga Bp ---. Amin.

Makaten ingkang dados atur kula. Mbok bilih wonten klenta klentu saha kebat kliwating atur kula ingkang mboten ndadosaken serjuning penggalih, saestu kula nyuwun lumunturing sih samudra pangaksami.

Wabilahitaufiq walhidayah, Wassalamu ‘alaykum wr.wb.

Jumat, 04 Februari 2011

HIKMAH

"Tujuh golongan yg akan dinaungi oleh Allah di bawah naungan-Nya di hari tdk ada naungan kecuali naungan-Nya. 1. Pemimpin yg adil, 2. Pemuda yg sentiasa beribadat kepada Allah semasa hidupnya, 3. Orang yg hatinya sentiasa berpaut pada masjid-masjid 4. Dua orang yg saling mengasihi karena Allah, keduanya berkumpul dan berpisah karena Allah, 5. Seorang lelaki yg diundang oleh seorang perempuan yang mempunyai kedudukan dan rupa paras yg cantik utk melakukan kejahatan tetapi dia berkata, 'Aku takut kepada Allah!', 6. Seorang yg memberi sedekah tetapi dia merahsiakannya seolah-olah tangan kanan tidak tahu apa yg diberikan oleh tangan kirinya dan 7. Seseorang yg mengingati Allah di waktu sunyi sehingga mengalirkan air mata dr kedua matanya" (HR. Bukhari & Muslim)

Bukanlah kegagalan yang menjadi akhir dunia bagi kita, melainkan keputusasaanlah yang menghancurkan kita.

Senin, 22 November 2010

Besarnya Dosa Riba

Assalamu’alaikum Wr Wb

Renungan Agama Islam dipersembahkan Aliansi Penulis Pro Syariah (AlPen ProSa) bersama RRI Surabaya. 13-04-08

Riba itu memiliki 73 pintu. Yang paling ringan (dosanya) adalah seperti seseorang yang mengawini ibunya. (HR al-Hakim dan al-Baihaqi).

Hadis tadi bisa dimaknai bahwa dosa riba banyak macam dan tingkatannya. Yang paling rendah adalah seperti dosa seseorang yang menzinai ibunya sendiri. Bahkan Abdullah bin Hanzhalah menuturkan, bahwa Rasulullah saw. pernah bersabda: satu dirham riba yang dimakan oleh seorang laki-laki, sementara ia tahu, lebih berat (dosanya) daripada berzina dengan 36 pelacur (HR Ahmad dan ath-Thabrani).

Ibn Abbas juga menuturkan, bahwa Rasulullah saw. pernah bersabda: Satu dirham riba (dosanya) kepada Allah lebih berat daripada 36 kali berzina dengan pelacur. (Ibn Abbas berkata) dan Beliau bersabda, “Siapa saja yang dagingnya tumbuh dari yang haram maka neraka lebih layak untuknya.” (HR al-Baihaqi dan ath-Thabrani).

Hal ini menunjukkan bahwa riba termasuk kemaksiatan yang paling berat. Sebabnya, kemaksiatan yang menandingi bahkan lebih berat daripada kemaksiatan zina, yang merupakan perbuatan yang sangat menjijikkan dan sangat keji. Kemaksitan riba itu melampaui batas-batas ketercelaan.

Dengan demikian, tidak diragukan lagi bahwa riba termasuk kemaksiatan yang paling besar. Hal itu karena orang yang mengambil riba merupakan penghuni neraka dan kekal di dalamnya. Kedua, meninggalkan (sisa) riba dinilai sebagai bukti keimanan seseorang. Ketiga, orang yang tetap mengambil riba diindikasikan sebagai seorang kaffâran atsîman; orang yang tetap dalam kekufuran dan selalu berbuat dosa. Keempat, orang yang tetap mengambil riba diancam akan diperangi oleh Allah dan Rasul-Nya. Kelima, dosa teringan memakan riba adalah seperti berzina dengan ibu sendiri; dan lebih berat daripada berzina dengan 36 pelacur.

Hadis itu juga jelas mengisyaratkan bahwa riba akan menimbulkan kerusakan di masyarakat yang lebih besar daripada kerusakan akibat zina. Ini karena riba sejak dulu hingga kini merupakan alat perbudakan, penindasan, eksploitasi, pemerasan, penghisapan darah dan penjajahan. Semua itu bukan hanya terjadi pada tingkat individu, namun juga terjadi terhadap suatu bangsa, umat dan negara.

Jika riba telah tampak nyata di suatu kaum, maka kaum itu telah menghalalkan diturunkannya azab Allah kepada mereka. Ibn Abbas menuturkan bahwa Nabi saw. pernah bersabda: Jika telah tampak nyata zina dan riba di suatu kampung maka sesungguhnya mereka telah menghalalkan sendiri (turunnya) azab Allah (kepada mereka) (HR. al-Hakim).

Jika kita telah mengetahui bahwa riba adalah kemaksiatan yang besar kepada Allah, seharusnya kita menghindarkannya dari kehidupan kita. Bukan malah menikmati riba itu karena menguntungkan secara materi. Untuk apa keuntungan materi di dunia jika hanya mendapat azab Allah di akhirat? Wassalamu’alaikum Wr Wb

Dicopy dari : http://alpenprosa.wordpress.com/2008/07/16/besarnya-dosa-riba/

Minggu, 09 Mei 2010

Udangan FKPI

Assalamualaiku wr. wb.

Bagi siswa-siswi SMA Negeri 1 Kedungreja yang ingin masuk sorga, tentunya harus beriman dan bertakwa kepada Alloh SWT. Untuk beriman dan bertakwa harus tahu dan mengamalkan Syariat Islam. Syariat Islam harus dipelajari yaitu dengan kajian, maka dari itu kami mengajak kepada semua siswa untuk mengikuti kajian rutin setiap hari Rabu.
Kalau saya pernah mendengar sebuah nasyid arab yang diterjemahkan dalam Bahasa Indonesia :
Tiada kemulyaan tanpa Islam
Tak kan sempurna Islam tanpa Syariat
Tak kan tegak Syariat tanpa Daulah
Daulah Khilafah Rosyidah.

Wasslamu'alaikum wr. wb.

REMIDI ULANGAN HARIAN TERPROGRAM 4 SMT 2

Bagi kalian yang nilainya dibawah KKM, dimana KKM untuk kelas X = 72 dan Kelas XI juga 72 maka segera untuk memperbaiki nilai kalian segera download soal dan lembar jawabnya kemudian kerjakan dan masukan kedalam CD blank kemudian kumpulkan paling lambat hari Rabu, 12 Mei 2010. Untuk soal dan lembar jawab dapat didownload dibawah ini :
1. Soal dan lembar jawab Remidi kelas X
2. Soal dan lembar jawab Remidi kelas XI

Minggu, 11 Oktober 2009

Soal Remidi

Bagi Siswa-siswi yang nilainya dibawaha KKM dimana Kelas X=70 Kelas XI=72 dan Kelas XII=71, maka pelajari soal-soal ini untuk melaksanakan persipan remidi :
1. Soal Kelas X
2. Soal Kelas XI
2. Soal Kelas XII

Sabtu, 09 Mei 2009

Kewajiban Manusia Ketika Melihat Kemungkaran



Abu Bakar Radhiyallahu ‘Anhu berkata: “Wahai sekalian manusia, sungguh kalian semua telah membaca firman Allah ini:

“Hai orang-orang yang beriman, jagalah dirimu; tiadalah orang yang sesat itu akan memberi mudharat kepadamu apabila kamu telah mendapat petunjuk. Hanya kepada Allah kamu kembali semuanya. Kemudian Allah akan menerangkan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan”. (QS. Al-Maidah [5] : 105).


Dan sungguh kami telah mendengar bahwa Rasulullah SAW bersabda: “Sesungguhnya manusia apabila mereka telah melihat kemungkaran, namun mereka tidak berusaha mengubahnya, maka hampir Allah akan menjatuhkan hukuman-Nya kepada mereka semua—yang melakukan kemungkaran dan yang melihatnya namun tidak berusaha merubahnya”. (Sunan Ibnu Majah, 12/158)


Ibnu Taimiyyah Rahimahullahu Ta’ala berkata: Di dalam ayat ini terdapat banyak pelajaran yang besar sekali faidahnya.


Pertama, orang yang beriman tidak perlu takut kepada orang-orang kafir dan munafik, sebab mereka tidak akan pernah memberikan mudharat (membahayakan) kepada dirinya, apabila ia telah mendapatkan petunjuk.


Kedua, orang yang beriman tidak perlu sedih dan gelisah melihat sepak terjang mereka, sebab kemaksiatan yang mereka lakukan tidak akan membahanyakan dirinya, apabila ia telah mendapatkan petunjuk. Sedangkan sedih atas sesuatu yang tidak membahayakan dirinya adalah perbuatan sia-sia. Kedua pengertian ini dijelaskan dalam firman Allah SWT:


“Bersabarlah (hai Muhammad) dan tiadalah kesabaranmu itu melainkan dengan pertolongan Allah, dan janganlah kamu bersedih hati terhadap (kekafiran) mereka dan janganlah kamu bersempit dada terhadap apa yang mereka tipu dayakan”. (QS. An-Nahl [16] : 127).


Ketiga, orang yang beriman jangan sampai mendukung mereka, dan jangan pula terpedaya dengan apa yang mereka janjikan atau berikan, seperti kekuasaan, kekayaan, dan kesenangan dunia lainnya.


Keempat, orang yang beriman jangan sampai memusuhi para pelaku maksiat melebihi apa yang telah disyari’atkan Allah, misalnya dalam membencinya, mencelanya, melarangnya, mengisolasinya, atau dalam menghukumnya. Sebab, tidak sedikit di antara mereka yang melakukan amar makruf nahi munkar yang terkadang melanggar apa yang telah ditetapkan Allah, baik hal itu dilakukan karena kebodohannya maupun kezalimannya. Dan ketentuan Allah dalam hal ini harus dijadikan pegangan dalam mengingkari orang-orang kafir, orang-orang munafik, orang-orang fasik, dan orang-orang yang bermaksiat.


Kelima, orang yang beriman akan melakukan amar makruf nahi munkar seperti yang disyari’atkan Allah, seperti berdasarkan ilmu, lemah lembut, sabar, bertujuan baik, dan dilakukan dengan terarah dan terencana.


Kelima hal ini dipahami dari ayat tersebut, dan harus dimiliki oleh siapa saja yang hendak melakukan amar makruf dan nahi munkar.


Sehingga bagi siapapun yang telah memutuskan diri untuk menjadi pengemban dakwah, yang menyerukan tegaknya agama Allah, maka ia harus mengerti dasar-dasar dakwah, dan dasar-dasar amar makruf nahi munkar. Dasar-dasar tersebut haruslah diambil dari al-Qur’an dan Sunnah Rasulullah. Dalam berdakwah harus konsisten mengikuti thariqah (metode) Rasulullah dalam mengemban dakwah, dan sedikit pun jangan sampai menyimpang darinya, karena metode itu wahyu dari Allah SWT. Metode itu telah menuntut untuk terus mendalami akidah Islam dan hukumnya; berinteraksi bersama masyarakat dengan melakukan pergolakan pemikiran, perjuangan politik, mencari dukungan untuk mendapatkan mandat kekuasaan, dan menegakkan hukum Allah dengan terlebih dahulu mendirikan Daulah Islam.


Ya Allah, berilah taufik, petunjuk, dan pertolongan kepada mereka yang dengan ikhlas berusaha dan bekerja mengikuti metode nabi-Mu, demi tegaknya hukum Allah di muka bumi, dengan mendirikan Khilafah yang kedua, yaitu Khilafah yang berdiri di atas metode kenabian (‘ala minhajin nubuwah).


(Sumber: Hizb ut-Tahrir info)

REMIDI TIK KELAS XII SMT 1 UH 1